Khatam Imrithy dan Maqshud, MTS. Mambaus Sholihin Selenggarakan Haflah Tasyakkur Sekaligus Pelepasan Siswa-Siswi Kelas Akhir

Mambaus Sholihin – Didampingi para wali santrinya, ratusan siswa-siswi kelas akhir siap dilepas dari MTs Mambaus Sholihin. Mereka berhak meraih penghargaan sebagai Khotimiin dan Khotimaat Imrithy-Maqshud ke-23. Ahad, (31/05/26).

900 lebih tamu undangan hadir dalam acara tersebut, turut hadir Habaib dan Masyayikh seperti Habib Abdul Qodir bin Ali As-Segaf Gresik, Habib Ahmad bin Abu Bakar As-Segaf Gresik, KH. Ahmad Tajul Mafakhir al-Ishaqy, KH. Nashiruddin, dan tentunya Romo KH. Masbuhin Faqih beserta keluarga ndalem.

Acara Inti dibuka pukul 07.00 WIB dengan Muhafadzoh bait-bait Imrithy dan Maqshud, dilanjutkan Qiro’atul Qur’an, Shalawat Nabi, Sambutan-sambutan, Taushiah, Pemberian Apresisai, Munaqosah dan diakhiri persembahan dari siswa-siswi kelas akhir.

Kepala Madrasah Agus H. Muh Ainun N’aim dalam sambutannya sangat bersyukur karena tahun ini bisa istiqomah menyelenggarakan haflah at-Tasyakkur Imrithy-Maqshud bersama para guru, santri dan wali santri. Dari total 740 siswa-siswi, 94% dari mereka berhak memperoleh apresiasi dan penghargaan sebagai para penghafal nadhom Imrithy dan Maqshud.

“Bapak ibu sekalian harus tahu, untuk sampai di titik ini anak-anak harus melalui tahapan-tahapan kelulusan yang tidak mudah, meliputi ujian Baca al-Qur’an, ujian Baca Kitab Kuning dan dipungkasi ujian Hafalan Imrithy-Maqshud yang didalamnya termuat bait idzil fataa hasba i’tiqoduhu rufi’a # wa kullu man lam ya’taqid lam yantafi’, bahwasanya seorang pemuda akan diangkat derajatnya oleh Allah tergantung pada kemauan dan usahanya” terang Gus Aim sebelum menutup sambutan.

Sambutan mewakili wali santri disampaikan oleh KH. Achmad Habiburrochman. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa mencari ijazah itu mudah, yang tidak mudah adalah Tafaqquh fi ad-Diin dan istiqomah meneruskan belajar di pondok pesantren.

“Ngeramut yugo niku mboten gampang, anak zaman ini beda dengan anak zaman dahulu, anak sekarang kalau tidak diarahkan dengan baik maka kebebasanlah yang mereka inginkan, mulo eman sanget lek yugo kulo panjenengan sedoyo mboten ngelanjutaken ten jenjang selanjute. Amergi mondok niku mboten namung sekolah formal, mondok niku taslim lan tashdiq arep arep ridho saking poro guru” tegas pengasuh Pondok Modern Fathul Majid Bojonegoro menutup sambutan.

Adapun Taushiah dalam kesempatan ini disampaikan oleh KH. Yusuf Chudhori, mengawali taushiah, Gus Yusuf sapaan akrab beliau, menyampaikan bahwa ditakdirkan menjadi santri merupakan takdir yang indah, dan menjadi santri Mambaus Sholihin adalah takdir terindah bagi para santri dan wali santri.

“Dadi santri iki bukti hidayahe gusti Allah akan datang hanya kepada hamba yang Allah kehendaki. Sopo seng dikersakke Allah dadi wong apik yo iku wong seng podo ngaji tenanan, mahami ilmu agomo. Tafaqquh fii ad-Diin dados pondasi ingkang kuat gawe nggayuh cita-cita dunia akhirat”. Pungkas pengasuh Pondok Pesantren API Tegal Rejo.

Sebelum acara ditutup, agenda dilanjutkan penganugerahan 10 siswa-siswi terbaik oleh Agus H. Muh Ainun Naim dan Ning Hj. Khodijah, sekaligus sesi foto bersama kepala madrasah dan para wali santri. Acara kemudian dipungkasi dengan do’a yang dipimpin oleh Habib Abdul Qodir bin Ali Assegaf Gresik.

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari acara tersebut, semoga para lulusan mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah serta senantiasa istiqomah memperjuangkan ilmu agama. Aamin. /Zul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× -