Mambaus Sholihin | KH. Muhammad Yusuf Chudhori menyatakan bahwa Tafaqquh fii ad-Diin hanya dapat ditemukan di pondok-pondok pesantren, oleh karenanya wajib bagi para santri mensyukuri karunia tersebut dengan cara bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Pernyataan tersebut beliau sampaikan dalam acara Temu Wali santri dan Tasyakkur ‘ala Ikhtimami Imrithy wal Maqshud sekaligus pelepasan siswa-siswi kelas akhir MTs Mambaus Sholihin. Ahad, (31/05/26).


Pernyataan pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang ini selaras dengan dawuh dawuh syaikhina Romo KH. Masbuhin Faqih tentang Tafaqquh fii ad-Diin, dalam banyak pertemuan sering kali Romo Kyai menyampaikan bahwasanya ruuhul ma’had dalam hal ini ruuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tafaqquh fii ad-Diin.
Mengawali taushiah Gus Yusuf mengucapkan selamat dan sukses kepada seluruh santri, seraya mendorong mereka agar senantiasa bersyukur atas hidayah yang telah Allah berikan dengan terus belajar dan mematangkan ilmu dengan melanjutkan jenjang pendidikan di pondok pesantren. Karena tidak semua orang mendapatkan hidayah untuk belajar tentang kehidupan di pondok-pondok pesantren.
“Jauh-jauh kalian datang dari luar kota, bahkan luar jawa, adoh-adoh berangkat mriki, mondok, ngaji, tapi kadang-kadang seng parek, sak deso karo pondok malah ora gelem ngaji. Wonten seng Bapak’e isuk tekan sore macul dadi petani nang sawah, putrane nang pondok mempeng, nganti khatam Imrithy-Maqshud. Wonten seng Ibuk’e bakulan nang pasar, isuk sore mikir dagangan, putrane ten pondok mempeng mikir Nahwu lan Shorof, tapi kadang wonten seng Bapak’e kiai, sakbendinone ngaji, malah putrane ora gelem ngaji, niki bukti hidayahe Allah, mulo jenengan kudu bersyukur di takdir angsal nikmat dadi santri.” ucap Gus Yusuf dengan tegas.
Dalam kesempatan ini, Gus Yusuf juga mengutip sebuah hadis “مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا “يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ, yang menjelaskan tentang siapakah orang-orang baik menurut Allah? Gus Yusuf menegaskan: “Mereka adalah orang-orang yang ngaji (belajar) dengan sungguh-sungguh dan kemudian diberi pemahaman lebih tentang ilmu agama.”
“Tafaqquh fii ad-Diin ini adalah pondasi adek-adek, silahkan, mungkin wonten seng cita-citae dokter, monggo, tapi ngaji disek, paling ora rampung Alfiyah, syukur-syukur rampung al-Qur’an bil Ghoib, nembe ngelanjutke ten fakultas kedokteran. Seng pengen dadi pengusaha monggo, TNI-Polri silahkan, tapi sekali lagi pondasinya adalah Tafaqquh fii ad-Diin, ngaji disek seng tenanan.” Tegas Gus Yusuf menjelaskan pentingnya Tafaqquh fii ad-Diin.

Nasihat kedua yang beliau sampaikan adalah tentang pentingnya berlaku baik, karena ilmu bisa dapatkan di banyak tempat seperti langgar atau musholla, tapi untuk membentuk mental, karakter dan perilaku yang baik sebagaimana warisan para nabi hanya dapat dilakukan dengan cara sering berkumpul dengan orang-orang sholeh.
“Mbentuk karakter, akhlak seng apik itu harus 24 jam diserawungke karo wong apik. Bocah seng maune nang omah, bedigasan, ora ngerti unggah-ungguh, melbu nang pondok, akhire iso dingkluk, ngerti seng jenenge tawadhu’ lan andap asor.” terang Gus Yusuf melanjutkan.
Nasihat Gus Yusuf ini juga selaras dengan dawuh Romo Kyai tentang Takholluq bi Akhlaaqil Kariimah, akan tetapi sebelum menuju Takholluq, terlebih dahulu Romo Kyai menekankan pentingnya Ta’abbud, beribadah dan berdzikir kepada Allah. Artinya bagi santri Mambaus Sholihin harus benar-benar menjaga makna “Tafaqquh” kemudian “Ta’abbud” dan terakhir “Takholluq”sebagai jalan menuju santri yang Alim, Sholeh dan Kafi.
Menutup taushiah Gus Yusuf berpesan kepada para wali santri untuk senantiasa mendukung dhohiron wa bathinan proses anak-anak dalam menuntut ilmu di pondok pesantren. /Zul
Mambaus Sholihin Situs Resmi Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Desa Suci Kecamtan Manyar Kabupaten Gresik